Diterbitkan 22 Nov 2022

Gokomodo Siap Gotong Royong Dorong Inklusi dan Transformasi Digital Sektor Agrikultur di Indonesia

Agri Edu

Forum Business 20 (B20) yang digelar pada 13-14 November 2022 resmi berakhir dan menghasilkan 25 rekomendasi kebijakan, 68 aksi kebijakan dan serta 4 program legacy (warisan). Di antara berbagai rekomendasi, aksi kebijakan serta legacy tersebut, kata Gotong Royong dan Bhinneka Tunggal Ika terus digaungkan dalam forum bisnis G20 tersebut.

It’s amazing how to see our national values, the ‘Gotong Royong’ and ‘Bhinneka Tunggal Ika’, laid the foundation for this B20 consensus,” tutur Witny Tanod, Chief People & Legal Affairs Gokomodo saat ditemui di B20 Summit, pada hari Senin (14/11).

Tanggapan Witny sejalan dengan apa yang disampaikan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan Host B20, Bapak Arsjad Rasjid, sekaligus juga menggambarkan cara kerja yang diusung Gokomodo sebagai startup Indonesia.

Gokomodo yang dibangun dengan tujuan memajukan pelaku sektor agrikultur di Indonesia, memiliki pola bisnis yang sejatinya inklusif (inclusive business model) yang menjajaki kemungkinan kemitraan dengan semua pihak, baik pemerintah, pengusaha, usaha kecil dan menengah (UKM) maupun stakeholders lainnya. 

Dengan kolaborasi tersebut, Gokomodo berupaya untuk menciptakan inovasi digitalisasi yang dapat memperbaiki disrupsi rantai pasok dan bekerja sama membentuk solusi rantai pasok yang lebih inklusif dengan mengedepankan nilai Gotong Royong dan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu, Gokomodo juga telah meluncurkan beberapa inisiatif untuk memberdayakan, mendidik, dan mempercepat literasi digital pelaku bisnis, terutama untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui akses ke platform digital, sehingga para pelaku UMKM tersebut dapat masuk di ekosistem digital dan menjadikan pertumbuhan ekonomi lebih inklusif dan merata.

Selain itu, SDM yang bergabung di Gokomodo pun cukup beragam, namun di Gokomodo berhasil menyatu untuk mendorong digitalisasi rantai pasok di sektor agrikultur dengan cara gotong royong.

Menurut Samuel Tirtasaputra, Co-Founder & CEO Gokomodo, pihaknya memang terinspirasi oleh filosofi Indonesia yang kuat yaitu gotong royong, bahwa kolaborasi dan kerja sama dalam mendorong transformasi digital akan menghasilkan manfaat yang besar. 

“Filosofi Gotong Royong dan Bhinneka Tunggal Ika ini sangat pas untuk menjadi prinsip tumpuan untuk membangun model bisnis yang berkelanjutan,” ujar Samuel.

Senada dengan hal tersebut, Gokomodo juga mengembangkan layanan yang dapat memicu perwujudan ekonomi inklusif melalui bonus demografi, khususnya generasi muda. 

“Saat ini Gokomodo juga mengembangkan layanan dan produk yang lebih edukatif dan interaktif. Harapannya, bisnis digital di bidang agrikultur ini tidak hanya dilakoni oleh perusahaan dan smallholders tani saja. Kita melihat ke depan, dengan bonus demografi yang ada, kita berharap dapat mendorong talenta digital muda Indonesia agar tertarik memajukan agrikultur di negara Indonesia,” pungkas Samuel Tirtasaputra.

whatsapp
twitter
facebook
linkedin