Agri Edu

Karhutla, Apa Dampaknya bagi Tanaman dan Aktivitas Petani?

Diterbitkan 24 Okt 2026, 10:36

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk petani. Selain merusak vegetasi dan ekosistem, karhutla juga menghasilkan kabut asap yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas pertanian, hingga menghambat aktivitas petani sehari-hari.

Dampak tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi petani di wilayah yang mengalami musim kemarau dan rentan terhadap kebakaran lahan. Lantas, bagaimana karhutla dan kabut asap dapat memberikan dampak pada tanaman serta kegiatan petani?

Apa Itu Karhutla?

Karhutla merupakan singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, yaitu peristiwa terbakarnya kawasan hutan maupun lahan yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan gangguan bagi masyarakat di sekitarnya.

Risiko karhutla dapat meningkat ketika kondisi lahan mengering akibat minimnya curah hujan. Pada lahan gambut, kebakaran bahkan dapat menjalar hingga ke bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dipadamkan dan berpotensi menimbulkan kebakaran berulang.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada September 2026, kondisi kering dan tingginya jumlah titik panas di sejumlah wilayah Indonesia menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam pengendalian karhutla.

4 Dampak Karhutla bagi Tanaman dan Aktivitas Petani

1. Menghambat Proses Fotosintesis Tanaman

Salah satu dampak karhutla yang sering luput dari perhatian adalah pengaruh kabut asap terhadap proses fotosintesis. Asap mengandung partikel yang dapat menyerap dan menghamburkan cahaya matahari sehingga mengubah jumlah cahaya yang diterima tanaman.

Padahal, tanaman membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis, yaitu proses menghasilkan energi yang mendukung pertumbuhan. Ketika cahaya yang tersedia berkurang dalam periode tertentu, proses fotosintesis dapat terganggu dan pertumbuhan tanaman berpotensi melambat.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi tanaman hortikultura, seperti sayuran, yang membutuhkan kondisi lingkungan sesuai untuk tumbuh secara optimal. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis tanaman, intensitas kabut asap, dan lamanya paparan.

2. Menurunkan Kualitas dan Hasil Panen

Karhutla juga berpotensi menurunkan produktivitas pertanian, baik akibat kebakaran yang merusak tanaman secara langsung maupun kondisi lingkungan yang terganggu oleh kabut asap.

sumber: kompas

Tanaman yang terpapar panas atau api dapat mengalami kerusakan jaringan, sedangkan berkurangnya cahaya matahari dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Akibatnya, kualitas hasil panen dan jumlah produksi berpotensi menurun.

Dampak tersebut bukan sekadar kemungkinan. Pada Oktober 2026, kabut asap karhutla di Palangka Raya dilaporkan mempengaruhi petani sayuran, dengan berkurangnya paparan sinar matahari dikaitkan dengan pertumbuhan tanaman yang tidak optimal dan penurunan hasil produksi.

Bagi petani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kerugian karena hasil panen yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.

3. Mengganggu Aktivitas Petani di Lapangan

Dampak karhutla tidak hanya dirasakan tanaman, tetapi juga petani yang mengolah lahan setiap hari. Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, sehingga kegiatan seperti penyiraman, pemupukan, pemangkasan, pemanenan, hingga pengangkutan hasil panen dapat terganggu.

Ketika kualitas udara memburuk, petani juga perlu lebih berhati-hati saat bekerja di luar ruangan. Paparan asap dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan, sehingga aktivitas pertanian mungkin perlu dibatasi atau disesuaikan dengan kondisi setempat.

Selain itu, apabila kebakaran mendekati area perkebunan atau lahan pertanian, petani perlu mengutamakan keselamatan dan mengikuti arahan petugas setempat. Kegiatan di lahan yang terancam kebakaran sebaiknya tidak dipaksakan hanya untuk mempertahankan jadwal pekerjaan.

4. Meningkatkan Risiko Kerusakan Tanah dan Lahan Pertanian

Kebakaran yang terjadi di lahan pertanian dapat merusak vegetasi dan bahan organik di permukaan tanah. Panas yang tinggi juga dapat mengganggu organisme tanah serta mengubah sifat fisik tanah, bergantung pada intensitas dan durasi kebakaran.

Kerusakan tersebut berpotensi mengurangi kemampuan tanah dalam menyimpan air dan meningkatkan kerentanan terhadap erosi. Pada lahan gambut, kebakaran dapat menyebabkan hilangnya lapisan gambut dan mengganggu kondisi tata air yang penting bagi kegiatan budidaya.

Karhutla dan Ancaman bagi Sektor Pertanian

Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan sektor pertanian. Kabut asap yang ditimbulkan berpotensi menghambat fotosintesis, mengganggu pertumbuhan tanaman, menurunkan hasil panen, serta membatasi aktivitas petani di lapangan.

Dampak karhutla menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan erat dengan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, pencegahan karhutla menjadi langkah penting untuk melindungi lahan pertanian, menjaga hasil panen, dan mendukung keberlanjutan usaha tani.

Ingin memulihkan kesuburan tanah setelah mengalami kerusakan? Penggunaan pupuk organik dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Yuk, kenali manfaat pupuk organik untuk tanam ulang dan cara memulihkan kesuburan tanah secara alami di artikel Gokomodo berikut ini.

whatsapp
twitter
facebook
linkedin