Diterbitkan 7 Sep 2023

Apa Saja Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Perkebunan Tembakau di Indonesia

News
perkebunan tembakau

Indonesia terkenal dengan banyaknya perkebunan tembakau dan hasil yang melimpah. Pada tahun 2022, hasil perkebunan tembakau mencapai 225.700 ton. Sebagian hasil perkebunan tembakau didominasi oleh perkebunan rakyat dengan hasil sebanyak 224.700 ton dan sisanya berasal dari perkebunan tembakau skala besar – Indonesia Targetkan Jadi Perkebunan Nomor Satu Dunia di 2024. Namun, hasil perkebunan tembakau selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan. 

Asal Muasal Perkebunan Tembakau di Indonesia

sumber: https://www.pexels.com/

Tembakau (Nicotiana tabacum) merupakan tanaman berasal dari Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tembakau bisa sampai di Indonesia karena dibawa oleh Belanda. Pada saat itu, tembakau menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Eropa. Pada saat pendudukannya di Indonesia, Belanda membangun perkebunan dan industri tembakau secara besar-besaran karena saat itu tembakau merupakan komoditas bernilai tinggi. 

Perkebunan tembakau Indonesia di bawah pemerintahan Hindia Belanda mencapai pada masa kejayaannya. Hingg pada saatnya masa kejayaan itu mulai redup pada tahun 1904 dan puncaknya menjelang krisis ekonomi tahun 1930 hingga 1940 hanya menyisakan 45 lahan budidaya tembakau. Keadaan budidaya tembakau di Indonesia membaik pada tahun 1959 ditandai dengan kerjasama perdagangan lelang tembakau di Jerman. Ternyata, tembakau asal Sumatera menjadi favorit penggemar tembakau di Eropa.

Meskipun tanaman tembakau bukan berasal dari Indonesia tetapi Indonesia mampu membuat produk tembakau dengan khas tersendiri yang dikenal sebagai kretek. Yang menarik dari kretek yaitu pembuatannya menggunakan campuran dari berbagai macam tembakau kemudian dicampur dengan cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Cita rasa nusantara kretek mampu menghalang masuknya produk rokok dari negara lain.

Daerah dengan Hasil Perkebunan Tembakau Terbanyak

sumber: https://pixabay.com/

Hasil tembakau yang melimpah tidak terlepas dari peranan petani tembakau yang tersebar disetiap daerah penghasil tembakau. Di Indonesia, 10 daerah yang turut menymbang hasil tembakau nasional serta jumlah produksinya pada tahun 2022, antara lain:

  1. Jawa Timur (100.600 ton)
  2. Nusa Tenggara Barat (55.700 ton)
  3. Jawa Tengah (53.700 ton)
  4. Jawa Barat (8.800 ton)
  5. Aceh (2.000 ton)
  6. Sumatera Utara (1.800 ton)
  7. D.I. Yogyakarta (800 ton)
  8. Nusa Tenggara Timur (700 ton)
  9. Sumatera Barat (400 ton)
  10. Lampung (400 ton)

Turunnya hasil panen tembakau sangat berdampak pada produksi rokok. Jumlah produksi rokok pada tahun 2022 sebanyak 15,8 miliar batang dan pada 2023 menurun menjadi 15,6 batang. Jika dirinci setiap golongan hasil tembakau, maka penurunan 15,3% pada hasil tembakau golongan I, golongan II mengalami kenaikan 3,6% hasil tembakau, dan golongan III mengalami pertumbuhan sebesar 51,3%. Hasil panen tanaman tembakau meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, rokok elektrik, dan masih banyak lagi.

Selain dipakai industri dalam negeri, hasil perkebunan tembakau juga turut di ekspor ke beberapa negara seperti Republik Dominika, Amerika Serikat, Belgia, Filipina, dan Sri Lanka. Selain itu pemerintah juga membuka ekspor perdana tembakau inovatif bebas asap ke Malaysia dan Filipina. Apabila sukses, ekspor tembakau inovatif akan menjangkau ke 40 negara lainnya. 

Penyebab Hasil Perkebunan Tembakau Mengalami Penurunan

sumber: https://www.pexels.com/

Hasil perkebunan tembakau akhir-akhir ini mengalami penurunan salah satu alasannya yaitu diterbitkannya kebijakan UU Kesehatan. Dalam UU tersebut, hasil panen tembakau disamakan dengan zat aditif lainnya. Dengan adanya UU Kesehatan berdampak pada produksi, peredaran, dan penggunaan produk hasil tembakau harus memenuhi standar dengan mempertimbangkan resiko kesehatan. 

Penyebab lain hasil perkebunan tembakau menurun yaitu naiknya cukai hasil  tembakau (CHT). Pada tahun 2023 dan 2024, kenaikan CHT dirincikan sebagai berikut:

  1. Kenaikan CHT sigaret kretek mesin I dan II sebesar 11,5% – 11,75%
  2. Kenaikan CHT sigaret putih mesin I dan II sebesar 11% – 12%
  3. Kenaikan CHT sigaret kretek pangan I, II, dan III sebesar 5%

Tingginya kenaikan CHT mewujudkan rencana pemerintah untuk menurunkan produksi hasil perkebunan tembakau. Meskipun demikian, pendapatan dari CHT meningkat sebanyak 4,9%.

Upaya Pemerintah Mengatasi Turunnya Hasil Perkebunan Tembakau

Naiknya bea cukai dan menurunnya produksi tembakau pertanda rencana pemerintah untuk menaikkan pendapatan sudah berhasil. Lalu, jika produksi tembakau turun bagaimana dengan nasib petani tembakau?

Pemerintah mengeluarkan program untuk menyejahterakan petani tembakau melalui program Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Sebanyak 50% DBHCHT diberikan untuk petani tembakau, buruh tani tembakau, dan buruh industri hasil tembakau. Anggaran DBHCT dari pemerintah pusat sebesar Rp 4,4 miliar dan setiap petani tembakau menerima Rp 300.000. DBHCHT juga dimanfaatkan untuk mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas kesehatan tingkat pertama. 

Selain banyak menyumbang pendapatan pada negara, melalui tembakau juga petani tembakau sejahtera dan layanan fasilitas kesehatan membaik. Namun, perlu bijak dalam mengkonsumsi tembakau mengingat masalah kesehatan yang timbul di kemudian hari. Dapatkan update seputar komoditas di Indonesia melalui website Gokomodo setiap hari!

whatsapp
twitter
facebook
linkedin