Diterbitkan 21 Sep 2023

Hal yang Perlu Kamu Tahu Tentang Perkebunan Kakao di Indonesia

Agri Edu
perkebunan kakao

\Industri kakao di Indonesia sudah menjadi bagian penyumbang devisa negara. Bagaimana tidak, Indonesia berada pada urutan ketiga sebagai negara produsen kakao terbesar di dunia. Pada tahun 2022 saja, total produksi kakao Indonesia mencapai 739.483 ton. Sebagian besar hasil kakao ini kemudian diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Vietnam, Amerika Serikat, India, Cina, Belanda, dan Australia. Yuk, kita pelajari lebih dalam tentang kakao Indonesia!

Awal Mula Perkebunan Kakao di Indonesia

sumber: https://www.pexels.com/

Pertama kali kakao, atau dikenal dengan cokelat, masuk ke Indonesia berkat campur tangan Belanda. Saat itu, cokelat menjadi salah satu lifestyle di Eropa. Masuknya kakao pertama kali di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan bibit asal Filipina. 

Perjalanan kakao terus berlanjut hingga pada tahun 1806 tanaman kakao mulai bertebaran di Pulau Jawa. Uniknya, tanaman kakao ditanam di sela-sela tanaman kopi dengan tujuan menghilangkan penyakit karat daun pada kopi. Karena minat masyarakat saat itu tinggi, lantas Belanda mendirikan perusahaan ‘Tjoklat’ pada tahun 1924. 

Tahun 1938 menjadi tahun dimana kebutuhan akan kakao semakin banyak, hingga pemerintah Belanda menjadikan 29 perkebunan kakao sebagai komoditi utama. Hasilnya, pemerintah Belanda membuka perkebunan baru di beberapa provinsi dengan jumlah 13 kebun di Jawa Barat, 7 kebun di Jawa Tengah, dan 9 kebun di Jawa Timur. 

Perkebunan Penghasil Kakao di Indonesia

sumber: https://www.reuters.com/

Produksi kakao daerah di Indonesia turut menyumbang produksi kakao nasional, bahkan beberapa hasilnya bisa di ekspor ke luar negeri. Inilah daerah yang turut menyumbang hasil kakao nasional

a. Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah menghasilkan 131,5 ton kakao dan menjadikannya hasil produksi kakao nasional terbanyak. Tentunya hasil tersebut merupakan gabungan dari hasil produksi kakao dari beberapa kabupaten/kota antara lain Kabupaten Poso, Kabupaten Sigi Biromaru, Kabupaten Donggala, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Parigi Moutong.

b. Sulawesi Tenggara

Provinsi Sulawesi Tenggara menghasilkan 107,2 ton kakao nasional. Hasil tersebut diperoleh dari perkebunan kakao Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe, dan Kabupaten Muna Barat.

c. Sulawesi Selatan

Provinsi Sulawesi Selatan turut menyumbang hasil kakao nasional sebanyak 93,8 ton. Penghasil kakao utama dari Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu.

d. Sulawesi Barat

Provinsi Sulawesi Barat memproduksi kakao sebanyak 71,1 ton. Hasil produksi tersebut merupakan gabungan dari beberapa perkebunan kakao di Kabupaten Mamuju, Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Mamuju Utara, Kabupaten Mamasa, dan Kabupaten Majene.

e. Lampung

Selain terkenall dengan produksi karet, Provinsi Lampung ternyata juga memilki perkebunan kopi yang tersebar di Kabupaten Tanggamus. Provinsi Lampung menghasilkan 56,6 ton kakao dari satu kabupaten saja. Hebat, kan?

Bicara Lebih Lanjut Tentang Perkebunan Kakao di Indonesia

sumber: https://www.bbc.com/

Perkebunan Kakao Baru-baru Ini

Sudah tidak diragukan lagi hasil kakao Indonesia yang dicari di pasar global. Dengan hasil produksi lebih dari 700.000 ton dan sempat mengalami penurunan produksi kakao nasional. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021 mengalami penurunan sebanyak 0,97% dibandingkan produksi pada tahun 2020. Produksi kakao nasional mengalami penurunan sejak tahun 2019-2021. Bahkan diprediksi pada tahun 2022-2026 produksi kakao akan mengalami sedikit penurunan sebesar 0,16% per tahun.

Penurunan produksi bisa jadi disebabkan oleh penurunan jumlah lahan perkebunan kakao. Awalnya pemerintah menargetkan perluasan perkebunan kakao seluas 5.450 hektar. Namun hasil akhirnya luas perkebunan kakao nasional turun 1,23% menjadi 1,46 juta hektar. 

Antisipasi Perubahan Iklim yang Mengancam Produktivitas Kakao

Jika berbicara mengenai perkebunan, maka akan berkaitan erat dengan cuaca dan iklim sebagai faktor penentu hasil produksi perkebunan. Akhir-akhir ini memang banyak sekali perubahan iklim yang membuat produktivitas kakao berkurang. Tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan petani seperti:

  1. Sanitasi dan rehab kebun berupa sambung samping tanaman kakao yang mengalami penurunan produktivitas.
  2. Irigasi dan bak penampung
  3. Rorak dan sitana cacing sebagai tempat zat organik tambahan untuk kakao
  4. Menanam tanaman sela
  5. Menggunakan pupuk organik
  6. Menggunakan perangkap sederhana dan ramah lingkungan untuk menanggulangi OPT

Itulah sedikit rangkuman tentang seluk beluk perkebunan kakao di Indonesia. Masih banyak artilel seputar kakao yang bisa kamu baca melalui website Gokomodo. Agar tidak ketinggalan berita terbaru, simak artikelnya setiap hari ya!

whatsapp
twitter
facebook
linkedin