Jangan Mau Ketinggalan! Yuk, Amati Tiru Modifikasi Pertanian Vertikal di Jakarta yang Sukses Berikut Ini

Tekanan terhadap lingkungan di Jakarta semakin terasa akibat pertumbuhan kota yang pesat. Alih fungsi lahan, peningkatan limbah, dan kebutuhan energi yang tinggi menjadi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan. Di tengah kondisi tersebut, pertanian vertikal menawarkan pendekatan ramah lingkungan yang layak dipertimbangkan. Nah, kali ini Gokomodo akan mengulas tentang apa saja yang perlu kamu ketahui tentang pertanian vertikal di Jakarta. Simak sampai selesai, ya!

Mengapa Pertanian Vertikal Cocok Dilakukan di Jakarta?
Ketersediaan lahan di kota metropolitan, seperti Jakarta, memang sudah sangat terbatas. Sebagian lahan sudah dijadikan pemukiman penduduk karena banyaknya penduduk. Apakah dengan terbatasnya lahan terbuka di Jakarta menjadi penghalang untuk melakukan budidaya tanaman? Tentu tidak, ya. Ada pertanian vertikal yang cocok dilakukan dengan keterbatasan lahan yang ada di Jakarta. Selain keterbatasan lahan, ada beberapa alasan mengapa pertanian vertikal cocok dilakukan di Jakarta?
Mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan
Selama ini Indonesia masih mengimpor beberapa bahan pangan karena rendahnya produksi pangan nasional. Dengan melakukan pertanian vertikal di pekarangan atau lahan sempit di sekitar rumah, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pangan minimal untuk satu keluarga terlebih dahulu. Apabila setiap rumah bisa membuat pertanian vertikal, swasembada dan ketahanan pangan bisa terwujudkan.
Menambah ruang terbuka hijau
Jakarta memang terkenal padat transportasi dan penduduk. Sudah terbayangkan betapa banyak polusi yang dihasilkan tiap harinya? Meskipun sudah banyak ruang terbuka hijau, tidak ada salahnya membuat ruang terbuka hijau kecil-kecilan di rumah dengan pertanian vertikal. Nantinya, tanaman yang dibudidayakan bisa membantu mengurangi polusi udara yang membandel dan membuat udara di rumah menjadi lebih sejuk.
Mengurangi ketergantungan penggunaan lahan konvensional
Selama ini aktivitas pertanian sering dilakukan di lahan yang cukup luas. Seiring berjalannya waktu, banyak juga lahan pertanian yang mulai beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Dengan kondisi seperti ini, aktivitas pertanian mulai perlahan mengurangi ketergantungan menggunakan lahan yang luas. Bahkan, dengan beralih ke pertanian vertikal, bisa tetap produktif menghasilkan bahan pangan yang berkualitas, lho.
Menghemat air
Krisis air sering terjadi di kota-kota besar, salah satunya di Jakarta. Padahal tanaman juga memerlukan ketersediaan air yang banyak untuk tetap tumbuh dengan baik. Salah satu cara menghemat air namun masih tetap bisa berbudaya tanaman yaitu dengan menerapkan pertanian vertikal, misalnya dengan hidroponik dan aeroponik.
Macam-macam Pertanian Vertikal yang Cocok di Jakarta
Sebenarnya ada berbagai macam pertanian vertikal yang bisa dicoba dan diterapkan di rumah. Lalu, apa saja pertanian vertikal yang cocok diterapkan di Jakarta?
Hidroponik
Pasti sudah tidak asing lagi dengan hidroponik. Salah satu ide yang muncul untuk pertanian vertikal pertama kali sudah pasti hidroponik, karena sangat lazim dilakukan di Indonesia. Dengan menggunakan metode hidroponik, kamu tidak hanya menghemat ruang, tetapi juga bisa menghemat air saat produksi pangan. Bahkan salah satu agrowisata di Lebak Bulus sudah menerapkan pertanian vertikal menggunakan hidroponik setinggi 18 meter dan memanfaatkan IoT untuk menjaga produktivitas instalasi hidroponik. Canggih banget!
Vertikultur barang bekas
Jika hidroponik dinilai terlalu rumit, terlebih harus membuat instalasinya, maka vertikultur yang memanfaatkan barang bekas bisa jadi solusinya. Barang bekas yang bisa dipakai seperti botol plastik bekas, pipa bekas, kaleng bekas, dan masih banyak lagi. Nantinya barang bekas tersebut menjadi tempat tumbuh tanaman dan digantung pada bidang vertikal, misalnya tembok. Selain turut budidaya tanaman, menerapkan vertikultur dengan metode ini bisa menambah estetika.
Ladang Farm: Pertanian Vertikal di Jakarta yang Sukses Besar
Bagi sebagian orang, pertanian vertikal memang jarang digunakan untuk produksi bahan pangan dalam jumlah besar. Hal tersebut tidak berlaku bagi Ladang Farm, salah satu pionir pertanian urban yang menerapkan pertanian vertikal di Jakarta. Sebelumnya memang sudah dibahas, namun kali ini Gokomodo akan ulas secara lebih mendalam tentang bagaimana sebenarnya pertanian vertikal juga bisa menjadi ladang usaha baru.
Ladang Farm sudah berdiri sejak tahun 2022 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain memanfaatkan lahan sempit dan menggunakan konsep pertanian vertikal, Ladang Farm juga menggunakan IoT untuk membantu menanam lebih dari 33.000 jenis tanaman, seperti Thai basil dan mint. Memiliki lahan terbatas lantas tidak membuat Ladang Farm menghasilkan pangan yang sedikit. Instalasi hidroponik setinggi 18 meter ini ternyata mampu memproduksi hingga 2 ton sayuran segar per bulan yang bisa memenuhi permintaan pasar di wilayah Jabodetabek. Keren banget!
Sudah punya rencana untuk memulai pertanian vertikal? Tidak masalah dimulai dari skala kecil di rumah terlebih dahulu, minimal bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Jika memang bisa berkembang lebih besar, maka bisa jadi sumber pendapatan baru. Karena tidak semua tanaman bisa dibudidayakan secara vertikal, kamu harus cari tahu di artikel Mau Coba Budidaya Tanaman Hidroponik? Contoh Tanaman Hidroponik Ini Bisa Jadi Inspirasi, Lho! dan artikel lainnya di blog Gokomodo, ya!



