Agri Edu

Urban Farming: Solusi Pertanian Modern di Tengah Perkotaan

Diterbitkan 6 Feb 2026, 03:34
Urban Farming

Urban farming atau pertanian perkotaan adalah praktik budidaya tanaman yang dilakukan di lingkungan kota dengan memanfaatkan lahan terbatas seperti pekarangan rumah, rooftop, balkon, hingga dinding bangunan. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan keterbatasan ruang hijau di perkotaan, urban farming menjadi solusi strategis untuk menghadirkan sumber pangan segar yang lebih dekat dengan konsumen.

Lebih dari sekadar aktivitas bercocok tanam, urban farming juga merupakan gerakan gaya hidup sehat dan berkelanjutan. Masyarakat kota kini semakin sadar akan pentingnya konsumsi pangan yang aman, segar, dan minim residu kimia. Dengan menanam sendiri, kontrol terhadap kualitas produksi menjadi lebih terjaga sekaligus mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan jarak jauh.

Sistem dan Metode yang Banyak Digunakan

Urban farming dapat dilakukan dengan berbagai metode, tergantung ketersediaan ruang dan sumber daya. Sistem hidroponik menjadi salah satu yang paling populer karena tidak memerlukan tanah dan relatif bersih untuk lingkungan rumah. Selain itu, metode vertikultur memungkinkan penanaman secara bertingkat sehingga memaksimalkan ruang sempit.

Teknik lain seperti aquaponik—kombinasi budidaya ikan dan tanaman—juga semakin diminati karena memanfaatkan limbah organik dari ikan sebagai sumber nutrisi tanaman. Dengan inovasi teknologi sederhana, masyarakat perkotaan dapat menghasilkan sayuran segar bahkan dari area yang sangat terbatas.

Contoh Tanaman yang Cocok untuk Urban Farming

Beberapa jenis tanaman sangat cocok dibudidayakan dalam sistem urban farming karena pertumbuhannya cepat, perawatannya relatif mudah, dan tidak membutuhkan ruang luas. Sayuran daun seperti Lactuca sativa (selada) menjadi pilihan utama dalam sistem hidroponik karena siklus panennya singkat dan permintaan pasarnya tinggi.

Selain itu, Brassica rapa (pakcoy) dan Amaranthus tricolor (bayam) juga populer karena mudah tumbuh dan tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Untuk tanaman buah dalam skala kecil, Capsicum annuum (cabai) dan Solanum lycopersicum (tomat) dapat ditanam di pot atau polybag dengan hasil yang cukup produktif.

Tanaman herbal seperti Ocimum basilicum (kemangi/basil) dan Apium graveolens (seledri) juga sangat sesuai untuk pekarangan rumah karena perawatannya sederhana dan sering digunakan dalam kebutuhan dapur sehari-hari.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan

Urban farming tidak hanya memberikan manfaat pangan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan. Produk sayuran segar hasil tanam sendiri memiliki nilai jual tinggi, terutama jika dipasarkan sebagai produk organik atau hidroponik premium. Skala rumah tangga dapat berkembang menjadi usaha mikro dengan sistem distribusi langsung ke konsumen sekitar.

Dari sisi lingkungan, keberadaan tanaman di area perkotaan membantu meningkatkan kualitas udara, mengurangi suhu mikro, serta menciptakan ruang hijau yang lebih sehat. Aktivitas bercocok tanam juga memberikan manfaat psikologis karena mampu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental masyarakat kota.

Menuju Kota yang Lebih Mandiri Pangan

Urban farming adalah langkah konkret menuju kemandirian pangan di tingkat komunitas. Dengan dukungan edukasi, teknologi sederhana, dan kolaborasi antarwarga, pertanian perkotaan dapat berkembang menjadi gerakan kolektif yang memperkuat ketahanan pangan lokal.

Di masa depan, integrasi urban farming dengan konsep smart city dan pertanian presisi berpotensi menciptakan sistem pangan yang lebih baik. Urban farming bukan sekadar tren, melainkan transformasi cara pandang terhadap produksi pangan di era modern. Baca Selengkapnya – Ingin Panen Melimpah? Berikan Nutrisi Tambahan untuk Padi Berikut Ini!

whatsapp
twitter
facebook
linkedin