Diterbitkan 22 Aug 2023

Fakta Kebutuhan Air di Perkebunan Kelapa Sawit

Agri Edu
perkebunan kelapa sawit

Salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan masyarakat adalah apakah kelapa sawit termasuk hemat air atau justru boros air. Pertanyaan ini muncul lantaran semakin meluasnya pembukaan lahan kelapa sawit di berbagai daerah dan kekhawatiran akan ketersediaan sumber daya air di Indonesia.

Adapun untuk menjawab pertanyaan tersebut, hasil penelitian mengenai kebutuhan air budidaya kelapa sawit yang dilakukan oleh Lisma Safitri, S.TP, M.Si dari tahun 2016 hingga 2019 akan menjawabnya. Simak artikel berikut ini untuk mendapatkan penjelasan selengkapnya. 

Hasil Penelitian Kebutuhan Air pada Perkebunan Kelapa Sawit 

Dari penelitian mengenai water footprint (WF) yang dilakukan oleh Lisma, diperoleh suatu kesimpulan bahwa kelapa sawit tidak boros air dan bukan sebuah ancaman terhadap sumber daya air yang ada di Indonesia. Dengan demikian, perkembangan budidaya kelapa sawit di Indonesia perlu kita dukung untuk mewujudkan kemajuan bangsa.

Bukti Pendukung Perkebunan Kelapa Sawit Hemat Air

Adapun beberapa bukti yang menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit hemat air adalah sebagai berikut.

1. Water Footprint Kelapa Sawit 

Water footprint perkebunan kelapa sawit di daerah Riau memiliki nilai sebesar 593,61 m3/ton. Nilai water footprint tersebut merupakan air yang dibutuhkan untuk setiap satu ton tandan buah segar (TBS). 

Oleh karena itu, perkebunan kelapa sawit termasuk tidak boros air. Nilai water footprint yang dimiliki perkebunan kelapa sawit tersebut ternyata juga jauh lebih rendah dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, seperti jarak, bunga matahari, dan kelapa.   

2. Jenis Tanah Perkebunan

Untuk mengetahui kebutuhan air perkebunan kelapa sawit, dilakukan penelitian terhadap berbagai jenis tanah mineral sebagai objek penelitian. Jenis tanah tersebut antara lain, liat hitam, lempung pasir merah, gambut, dan tanah dengan pemakaian pupuk kadar tertentu.

3. Nilai Water Footprint Green dan Blue 

Water footprint dibagi menjadi tiga jenis. Pertama adalah green yang bersumber dari air hujan. Kedua adalah blue yang bersumber dari air tanah dan permukaan. Ketiga adalah grey yang merupakan air untuk melarutkan pupuk, bahan kimia, serta pestisida. 

Menurut penelitian BPDPKS, hasilnya adalah sumber utama air di perkebunan inti sawit berasal dari air hujan, bukan dari air tanah. Perkebunan juga memiliki nilai grey sebesar 8,9%, yang artinya tergolong rendah.

4. Tanaman Sawit di Tanah Gambut 

Bukti lain yang dapat mendukung bahwa perkebunan kelapa sawit tidak boros air adalah nilai water footprint di tanah gambut. Nilai tersebut rupanya jauh lebih kecil dan rendah jika dibandingkan dengan nilai water footprint di tanah dengan banyak mineral. 

5. Akar Tanaman Sawit 

Dari perakarannya, tanaman sawit menyerap sebagian besar air hanya di bagian atas perakaran tanaman, yakni di lapisan top soil dan sub soil. Sementara itu, nilai water footprint juga sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah dan usia tanaman. 

Cara Mengelola Kebutuhan Air Perkebunan Sawit

Guna mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, dibutuhkan tata kelola air yang baik pada perkebunan kelapa sawit. Tata kelola ini terutama digunakan untuk lahan gambut yang kerap mengalami kelebihan air hingga menggenang di permukaan tanah.

Adapun tata kelola air yang bisa dilakukan adalah membangun benteng tanggul air untuk mencegah air sungai masuk ke dalam lokasi perkebunan. Pembuatan parit main drain, collection drain, field drain, dan pintu air juga bisa dilakukan agar muka air tanah bisa berada pada 50 – 80 cm di bawah permukaan tanah. 

Sementara itu, tata kelola air pada lahan mineral dilakukan dengan pembuatan kantong-kantong air di dalam blok tanaman. Misalnya pembuatan rorak yang berfungsi untuk menampung air hujan agar bisa mencukupi kebutuhan air tanaman kelapa sawit.

Itu dia bukti bahwa perkebunan kelapa sawit tidak boros air dan bagaimana tata kelola air yang baik. Dapatkan informasi penting lainnya di Gokomodo, seperti artikel 5 Akar Permasalahan Turunnya Produktivitas Perkebunan Sawit Indonesia. Selamat membaca!

whatsapp
twitter
facebook
linkedin