Diterbitkan 13 Oct 2023

Fakta Lain Perkebunan Kakao Indonesia yang Perlu Kamu Pelajari

Agri Edu
perkebunan kakai indonesia

Coklat menjadi salah satu makanan penutup favorit yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat lokal maupun internasional. Sudah tahu kan bagaimana coklat dihasilkan? Ya, coklat dihasilkan dari tanaman kakao yang banyak tumbuh di Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi negara penghasil kakao terbanyak ketiga di dunia. Hasil kakao Indonesia sebagian besar di ekspor ke seluruh dunia seperti Asia, Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia serta menghasilkan USD 1,21 miliar. Hebat, kan?

Sebelumnya sudah pernah membahas tentang Hal yang Perlu Kamu Tahu Tentang Perkebunan Kakao di Indonesia, kali ini Gokomodo akan membahas tentang perkebunan kakao Indonesia lebih dalam serta peluang industri kedepannya.

Perkebunan Kakao Terluas di Indonesia

Sumber: en industry

Pada pembahasan sebelumnya telah disinggung provinsi yang menghasilkan kakao terbanyak di Indonesia. Tentunya hasil yang banyak juga dipengaruhi oleh luas perkebunan Indonesia. Secara nasional, luas perkebunan kakao mencapai 1.5 juta hektar. Jika dirinci, perkebunan kakao Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat dengan luas 887.735 hektar, perkebunan milik negara 49.876 hektar, dan milik swasta seluas 54.737 hektar. Ditinjau dari perkebunan kakao setiap provinsi, inilah update beberapa provinsi yang memiliki perkebunan kakao terluas di Indonesia:

  1. Sulawesi Tengah dengan perkebunan kakao seluas 276.300 hektar.
  2. Sulawesi Tenggara dengan perkebunan kakao seluas 244.700 hektar.
  3. Sulawesi Selatan dengan perkebunan kakao sla 188.00 hektar.
  4. Sulawesi Barat dengan perkebunan kakao seluas 143.400 hektar.

Dari perkebunan kakao yang terluas di Indonesia, mengapa mayoritas terdapat di Pulau Sulawesi, ya? Hal ini tidak luput dari sejarah masuknya coklat di Indonesia.

Singkatnya, kakao di Indonesia merupakan kakao yang dibawa oleh Belanda pada era kolonialisme saat menduduki wilayah Sulawesi. Kakao pertama kali ditanam di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dengan menggunakan benih kakao asal Filipina. Lambat laun perkebunan kakao merambah hingga di Pulau Jawa.

Bermacam Jenis Kakao yang Dihasilkan Oleh Perkebunan di Indonesia

Sumber: Learn English

Indonesia terkenal dengan hasil kopi yang unik berdasarkan daerah penghasilnya. Ternyata hal yang sama berlaku untuk biji kakao hasil perkebunan di Indonesia rupanya memiliki ragam tersendiri. Secara umum, ada 3 jenis biji kakao khas Indonesia yaitu Criollo, Forastero, dan Trinitario. Berikut penjelasan singkatnya:

  1. Criollo mendapatkan gelar biji kakao dengan kualitas terbaik di dunia. Awal mulanya biji kakao ini hasil budidaya suku Maya dan Aztec. Kakao jenis ini hanya dihasilkan 0.01% dari semua kakao yang ditanam di dunia. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa Criollo termasuk biji kakao yang punah sehingga keberadaannya termasuk hal yang langka. Biji kakao ini memiliki rasa tidak pahit karena tidak adanya tanin serta mengandung astringen yang membuat rasanya manis.
  2. Forastero

90% kakao dunia terdiri dari biji Forastero ini. Kakao Forastero merupakan varietas yang paling banyak ditanam. Sebanyak 70-80% dari total produksi kakao dunia didominasi oleh biji kakao meskipun kualitasnya tidak setinggi biji kakao Criollo. Biji kakao Forastero memiliki rasa sangat pahit, sangat aromatik, sangat astringen dan tinggi tanin.

  1. Trinitario

Biji kakao Trinitario berasal dari biji Forastero yang berasal dari Venezuela lalu disilangkan dengan biji Criollo asli. Persilangan ini membuat biji kakao ini menjadi biji hibrida terbaik di dunia. Biji kakao ini menyumbang 12% dari hasil kakao dunia. 

Selain tiga jenis biji kakao tersebut, ternyata Indonesia juga menghasilkan kakao yang dianggap terbaik di dunia. Biji kakao terbaik asal Indonesia dinamai dengan kakao Edel. Kakao ini berasal dari Kabupaten Banyuwangi dan dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Harga jual kakao Edel cukup fantastis yaitu senilai USD 8/kg nya. Sementara kakao pada umumnya dihargai senilai USD 2,5-3/kg.

Permasalahan Industri Kakao di Indonesia

Dengan segudang prestasi yang dihasilkan di pasar global lantas tidak membuat kakao Indonesia menjadi primadona di negeri sendiri. Sama-sama dijual dalam keadaan mentah, namun peminat kakao dari dalam negeri lebih rendah. Alasan terkuat mengapa konsumsi kakao rendah yaitu penetapan pajak 10% untuk petani kakao, sedangkan untuk ekspor saja petani tidak dikenakan pajak. Alhasil banyak petani yang mengekspor kakao dibandingkan menjualnya ke pabrik dalam negeri. Selain itu, hasil panen tentunya juga dipengaruhi oleh serangan OPT pada tanaman kakao sehingga menyebabkan penurunan.

Potensi kakao Indonesia bisa ditingkatkan lagi dengan adanya hilirisasi. Dengan adanya hilirisasi, diharapkan penjualan kakao di dalam negeri meningkat mengingat produk hilirisasi merupakan produk yang bisa langsung digunakan oleh konsumen. Yuk simak artikel lain seputar kakao hanya di website  Gokomodo, ya!

whatsapp
twitter
facebook
linkedin