Monokultur: Solusi Ringkas Budidaya Tanaman Pangan dengan Hasil Maksimal

Jika melihat area persawahan atau perkebunan di Indonesia, apakah yang kamu amati? Apakah jenis tanaman yang dibudidayakan dalam satu hamparan lahan sama semuanya? Jika iya, selamat kamu sudah menemukan pertanian monokultur. Memang di Indonesia sangat lazim menggunakan sistem pertanian monokultur untuk memproduksi tanaman pangan. Kenapa ya para petani lebih sering menggunakan monukultur dibandingkan polikultur? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, baca dulu penjelasan berikut ini, ya!

Memahami Konsep Monokultur
Banyak sekali diperbincangkan dengan konsep pertanian monokultur di Indonesia. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan pertanian monokultur?
Pertanian monkultur merupakan salah satu peninggalan budaya bercocok tanam dari nenek moyang, dimana hanya menggunakan satu jenis tanaman yang dibudidayakan pada lahan yang sama dan dalam waktu yang bersamaan. Konsep pertanian ini umum dilakukan untuk memaksimalkan efisiensi produksi dan penggunaan lahan dengan mekanisasi. Biasanya praktek budidaya tanaman monokultur dilakukan untuk budidaya tanaman pangan, seperti jagung, padi, singkong, dan lainnya.
Nah, berbicara tentang monokultur kurang lengkap rasanya kalau belum tahu kelebihan dan kekurangannya, Yuk, baca penjelasan selanjutnya untuk tahu lebih tentang pertanian monokultur.
Kelebihan Monokultur
Pertanian monokultur digunakan sampai sekarang tentu memiliki beberapa kelebihan. Apa saja ya kelebihannya?
Manajemen lahan jauh lebih mudah
Fokus pada satu hal akan lebih mudah dibandingkan fokus dalam banyak hal. Termasuk dalam pertanian monokultur dinilai lebih mudah dalam manajemen karena pengelolaan lahan lebih sederhana dan pengelolaan lahan dapat dilakukan secara konsisten. Terlebih lagi hanya satu jeneis tanaman saja yang dibudidayakan.
Hasil panen maksimal
Mengelola satu jenis tanaman memang lebih mudah, termasuk mudah juga memenuhi kebutuhan nutrisinya. Kebutuhan nutrisi yang sama mempermudah petani menyediakan pupuk yang sesuai dan membuat kondisi lahan yang optimal untuk satu jenis tanaman saja. Tentu saja hal ini membuat hasil panen melimpah. Terlebih yang dibudidayakan tanaman biji-bijian, pengelolaan tanaman dan panen dapat dilakukan lebih efisien. Sehingga ada potensi luas untuk mengoptimalkan potensi produksi biji-bijian.
Menjadi sumber pendapatan
Dengan sistem pertanian monokultur petani bisa fokus pada pemasaran dan distribusi panen sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam. Selain itu, para petani juga dapat memperkuat relasi dan branding sesuai dengan hasil pertaniannya, sehingga harga yang ditawarkan pada konsumen pun bersaing dengan produk lainnya.
Membuka peluang pengembangan teknologi
Teknologi pertanian yang ada saat ini perlu dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman dan bisa digunakan dimasa depan. Menggunakan sistem pertanian monokultur memudahkan pengembangan teknologi pertanian baru karena hanya fokus pada satu jenis tanaman, penelitian dan inovasi lebih spesifik sesuai dengan tanaman yang dibudidayakan, sehingga meningkatkan efisieni dan produktivitas penggunaan teknologi.
Kekurangan Monokultur
Seperti dua muka dalam satu koin, hal yang sama juga dapat dikatakan untuk pertanian monokultur. Pertanian monokultur juga memiliki kelemahan, antara lain:
Menurunkan kesuburan tanah
Menanami lahan berulang kali dengan jenis tanaman yang sama dapat menurunkan kesuburan tanah. Kok bisa? Pada pertanian monokultur, pengelolaan tanah dilakukan secara intensif secara terus menerus tanpa memberi waktu istirahat dan tanpa diberi bahan organik pada tanah. Jika praktik ini dilakukan secara terus menerus, kadar unsur organik dan unsur hara di dalam tanah akan berkurang seiring berjalannya waktu. Akibatnya, tanah akan kehilangan kesuburannya dan kemampuannya untuk menyimpan unsur hara.
Lebih ketergantungan dengan bahan kimia
Sebelumnya sudah disebutkan praktik pertanian monokultur bisa menurnkan kesuburan tanah. Untuk mengembalikannya mungkin diperlukan banyak sekali unsur hara dan bahan organik lainnya. Jika digunakan untuk budidaya tanaman dalam waktu singkat, sangat tidak mungkin memberikan hanya pupuk organik sebagai unsur hara serta pembenah tanah. Perlu diingat, pupuk organik lebih lambat diserap oleh tanaman dan dampaknya juga terlihat lebih lama pada tanaman. Agar lebih cepat diserap oleh tanaman, maka memerlukan pupuk berbahan kimia. Namun karena tanahnya juga sudah mengalami penurunan kualitas, maka jumlah pupuk yang digunakan juga lebih banyak. Akibatnya bisa mencemari lingkungan dan tanah menjadi ketergantungan dengan pupuk kimia.
Lebih mudah terjangkit hama dan penyakit tanaman
Sistem pertanian monokultur hanya menggunakan satu jenis tanaman saja. Apabila tanaman tersebut dikembangkan, maka ada kemiripan secara genetika. Logikanya jika satu tanaman terkena penyakit maka tanaman lainnya juga akan terserang penyakit yang sama pula. Jadi lebih rentan dengan penyakit, kan?
Mengurangi keanekaragaman hayati
Sebenarnya dalam satu ekosistem biasanya terdapat berbagai macam flora dan fauna. Dengan menerapkan sistem pertanian monokultur, yang hanya budidaya satu jenis tanaman saja Tanaman yang dibudidayakan memiliki musuh alaminya sendiri, seperti hama dan gulma. Nah, hama dan gulma yang ada di area pertanian biasanya menyesuaikan dengan tanaman utamanya. Apabila yang dibudidayakan hanya tanaman itu-itu saja, maka musuh alami juga tidak akan bervariasi. Inilah mengapa dengan adanya pertanian monokultur, keanekaragaman hayati di aera pertanian juga ikut berkurang.
Nah, ternyata pertanian monokultur sendiri menyiimpan kekurangan dan kelebihannya tersendiri. Terlepas kedua faktor tersebut, petani harus lebih bijak saat memutuskan menggunakan monokultur maupun polikultur. Selain monkultur, ada cara budidaya tanaman lainnya yang bisa dipelajari yaitu Urban Farming: Solusi Budidaya Tanaman dengan Lahan Terbatas. Ingin mempelajari beragam cara budidaya tanaman lainnya? Yuk, mampir ke blog Gokomodo!



